Catatan Kecil Hatiku :)

Hey,sayang….mungkin ini terlalu sering aku ucapkan namun tak pernah sedikitpun kau gubris. Aku memang tak pandai sampaikan kata-kata, selalu itu tak pernah membuatmu paham. Ya, hanya lewat tulisan ini aku ingin ungkapkan keluh kesah ku padamu karena dengan tulisan ini dapat sedikit mewakili hatiku, berharap suatu saat dapat kau baca. Kamu tahu awal bertemu denganmu, aku pikir kamulah yang paling mengerti dan kamu beda seperti yang lain. Kamu yang pertama aku kenal adalah orang yang penyabar dan pengertian, tak cukup lama ku mengenalmu sifat aslimu makin terlihat. Aku coba bertahan, ku coba selami lebih dalam pribadimu. Hari demi hari bulan demi bulan terlewati, bahkan genap sudah waktu itu satu tahun kita menjalin hubungan. Mulai timbulah pembicaraan serius antara kita, yang aku anggap itu sebatas khayalan saja aku nanti bisa hidup bersamamu, jujur aku tak terlalu percaya janji-janji lelaki. Aku masih ingat “Yang, aku ingin kita tunangan. Bagaimana? Kamu setuju? Aku ingin ikat kamu dulu supaya aku tenang meskipun ldr sama kamu.” ucapmu saat itu. Dalam hatiku masih ragu, akupun belum tahu harus iyakan ajakan kamu atau aku menolaknya. Memang kita belum sama-sama berani ungkapkan keinginan itu pada kedua orangtua kita. Terlebih aku, tak terbayang apa ucapan ayahku nanti saat aku katakan ada yang ingin serius denganku, Ayahku memang termasuk orang yang keras kepala dia inginkan anak perempuan pertamanya lulus kuliah baru pikirkan urusan hati. Namun, lama-kelamaan aku beranikan diri untuk bicarakan hal itu kepada Ayah. Benar, dugaanku Ayah ya tetap Ayah selalu keras kepala tak ingin aku terburu-buru menikah. Dengan perasaan kecewa, aku sampaikan apa kata ayahku itu kepada kamu. Sepertinya niat dan tekadmu bulat, kemudian kamu bilang bahwa pertunangan itu takkan mengganggu kuliahku dan kamu siap menungguku untuk lulus kuliah asalkan kita bertunangan. Akhirnya setelah berdiskusi lagi dengan Ayah, Ayah pun setuju dengan keinginan kita. Bahagia sekali rasanya saat itu, bahwa yang terlintas di pikiranku akan pandangan buruk tentang kamu hilang seketika ternyata salah selama ini aku menilai kamu. Beberapa bulan lagi pertunangan akan dilaksanakan, tiba-tiba Ayah berubah pikiran, Ayah menolak pertunangan ini bahkan Ayah meminta kamu untuk nikahi aku. Betapa terkejutnya kamu saat mendengar itu, kamu bahkan tak ada persiapan sama sekali untuk pernikahan. Ya, maklum kita masih sama-sama mahasiswa tak ada budget lebih untuk ke jenjang pernikahan. Setelah dirundingkan dengan pihak keluargamu, ternyata alasan Ayah ingin kamu menikahiku karena Ayah terlalu takut pergaulan anak zaman sekarang, apalagi aku jauh dari pengawasan Ayah. Aku kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Bandung. Untungnya pihak kamu setuju dengan alasan Ayah juga mendukung keputusan Ayah. Dan pada akhirnya menikahlah kita walaupun dengan sangat sederhana tanpa ada pesta.

Saat itu aku telah resmi menjadi istri kamu, aku kira masalah dalam hubungan kita takkan bertambah rumit justru malah makin rumit. Semua berawal dari ego kita masing-masing yang selalu ingin benar terlebih memang untuk menyatukan dua kepribadian, dua pikiran, dua sifat dalam satu atap itu susah. Memang benar, sangat susah tak jarang pertengkaran kita selalu melibatkan kedua orangtua dan kata pisah pun selalu terlontar. Kamu tahu dari situlah muncul rasa sakitku, rasa benciku karena kamu selalu tak ingin mengalah dan banyak menuntut berbeda dengan kamu saat pacaran dulu. Pernah suatu saat, kita bertengkar hebat, kamu matikan handphonemu sehingga sudah 3 hari tanpa kabar. Memang, kita berbeda kota kamu di Bekasi dan aku di Bandung, aku panik karena sudah beberapa hari handphonemu tak aktif. Aku putuskan untuk menyusul kamu ke Bekasi namun teman-temanku mencegahku untuk pergi, karena aku tak pernah pergi sendirian apalagi ke kota besar. Mereka menyarankan untuk menelpon Ibu kamu, setelah aku telpon ternyata kamu pergi ke Banjar dan putuskan untuk berhenti bekerja. Tak lama setelah mendengar itu, aku langsung pesan travel untuk pulang. Aku pulang dengan perasaan gelisah, tak enak saat itu perasaanku. Ku putuskan untuk telpon Ibumu lagi, ingin berbicara denganmu. Ketika di perjalanan, aku memaksa terus Ibumu untuk membujukmu agar mau berbicara denganku,ungkapkan kesalahanku, aku ingin masalah ini cepat selesai. Namun, sangat hancur hatiku saat itu mendengar bahwa kamu inginkan kita akhiri saja pernikahan ini. Tak terasa air mata mulai berjatuhan membasahi pipi, tak peduli banyak penumpang lain melihatku menangis dan bertengkar denganmu di telpon. Aku rasa ini masalah kecil dan tak harus berujung kata pisah, memang sifat seseorang takkan ada yang bisa ubah. Hanya kita perlu adaptasi saja dan coba memahami satu sama lain, perlahan keluhan akan sifat buruk pasangan itu hilang. Saat itu aku memohon terus memohon kamu untuk urungkan niatmu itu. Kita rundingkan lagi masalah itu dan mengobrol secara kekeluargaan. Oke, akhirnya kamu tak jadi pisah denganku. Kamu selalu berkata “Jika kita berdekatan dan satu rumah tentu takkan ada pertengkaran dan aku bisa imbangi kamu” dari situlah muncul bahwa mungkin perkataanmu benar. Kamu tahu, aku korbankan kuliahku yang tinggal beberapa semester lagi demi untuk hidup seatap dengan kamu. Dan aku rela menerima kemarahan Ayahku, aku memohon kepada Ayah aku lakukan ini demi keutuhan rumah tanggaku, jika diteruskan pun rasanya aku takkan sanggup, hampir setiap hari kita berselisih paham. Perlahan Ayahpun luluh dan izinkan aku untuk pindah kuliah. Belum juga genap sebulan kita satu atap, ada saja masalah yang datang. Kali ini, bahkan lebih parah dari sebelumnya. Aku kira, kamu telah berubah :’) .

Sayang, asal kamu tahu semua yang ku lakukan itu demi kamu. Dari awal bertemu kamu, aku rela berselisih paham terus dengan Ayahku. Bahkan, aku korbankan cita-citaku hanya untuk hidup rukun bersama kamu. Namun, apa balasannya selalu dan selalu kamu tak pernah paham dan tak ingin mengalah. Sebenarnya, banyak rasa sakit ini, banyak luka yang kamu berikan. Mana kebahagiaan yang dulu kamu janjikan, yang dulu kamu  jamin. Sayang, aku tak banyak menuntut dari kamu, aku selalu menerima kamu. Aku ingin ketika aku berkeluh kesah tentangmu, cobalah luangkan sedikit waktu hanya untuk mendengarkanku. Dan cobalah kamu pahami rasa sakitku, bayarlah rasa sakit ini dengan kebahagiaan itu. Karena takkan pernah aku melepaskan kamu demi orang baru, untuk memahami dan menyelami hati seseorang itu susah. Aku bertahan sampai sejauh ini, karena aku memang tulus menyayangi kamu dan aku jadikan pernikahan kita itu tumpuan bahwa menikah bukanlah permainan.

Iklan

“Biarkan Hati Yang Memilih”

Aku tau itu semua hal tabu…

Bagimu yang selalu menuntutku untuk ini dan itu…

Hatiku? Pernahkah kau coba tanyakan…

Bagaimana rasanya jika keinginan tak tersampaikan…

Kumohon sekali ini saja biarkan hatiku yang memilih…

Jika kau tau bagaimana rasanya hidup dalam peraturan…

Apa-apa selalu terbatas, bahkan masalah cita-cita…

Memang semua itu yang terbaik untuk hidupku kedepan…

Tak pernah kau bebaskan aku memilih jalan hidupku sendiri…

Mama…aku mohon kali ini masalah hati jangan kau coba campuri…

Ini hatiku dan dia yang kupilih untuk mengisi kekosongannya…

Jangan kau coba tergiur dengan iming-iming yang tak jelas…

Mungkin masalah itu, baik bagimu agar kau tenang bahwa kehidupanku terjamin…

Namun, sempatkah terlintas bagaimana hatiku dan hati yang mencintaiku…

Itu semua takkan ku nikmati jika hati tak ijinkan ku berlari…

Aku mohon ini saja keinginanku izinkan hatiku yang memilih…

“Bolehkah Aku Punya Mimpi?”

Bolehkah Aku punya mimpi?

Mimpi yang mungkin diluar nalar oranglain…

Mimpi yang akan membuat orang lain tertawa…

Karena mereka pikir aku takkan meraihnya…

Bolehkah Aku punya mimpi?

Saat yang lain tak perlu bermimpi…

Saat yang lain anggap impian itu hanyalah khayalan semu…

Karena mereka pernah bermimpi namun tak menjadi kenyataan…

Namun, Aku takkan goyah dengan impianku…

Aku akan terus meraih mimpi itu, walau banyak yang meremehkanku…

Impian itu takkan menjadi angan jika kita berani wujudkannya…

Bukan juga imajinasi jika kita berjuang untuk membuat imajinasi itu nyata…

Cacian, hinaan, makian yang aku terima…

Aku anggap hanyalah sebuah kerikil dalam meraihnya…

Orang lain hanya menilai, aku yang punya kemampuan…

Biarlah itu semacam motivasiku untuk bangkit…

Kelak suatu saat nanti, jika impianku nyata…

Aku akan berterimakasih pada mereka, yang selama ini peduli akan impianku…

Karena cemoohannya, semacam cambuk untukku meraih mimpi….

 

“Duniaku”

Entah apa yang kurasakan akhir-akhir ini, seperti ada banyak mata yang sedang mengintaiku juga sekelibat bayangan tiba-tiba muncul kemudian hilang. “Ah cuma perasaanku saja mungkin” gumamku dalam hati. Namun, hal itu terjadi berulang kali dan aku berpikir mungkin semua orang juga sering merasakan apa yang kurasa sekarang. Ketika hari senin selesai upacara, mendadak mataku buram, kepalaku pusing yang kulihat saat itu ada dua tangan melambai-lambai juga tubuh tanpa kepala, akupun tak sadarkan diri. Saat aku sadar entah mengapa dadaku sesak, tubuhku seperti ada yang mengendalikan kalau kata orang-orang “KESURUPAN”. Usai tragedi itu sepertinya ada hal yang janggal yang terjadi pada diriku, aku dapat melihat makhluk yang harusnya tak bisa di lihat (Makhluk Astral). Dan hidupku berubah 360 derajat dari biasanya, aku merasa tak tenang, aku juga merasa kalau itu bukan aku bukan diriku. Jika ada yang menyinggungku sedikit, dadaku sakit, batinku panas, emosi meledak seketika. Orang-orang berpikir aku mempunyai gangguan jiwa karena bagi mereka apa yang ku ceritakan hanyalah imajinasiku.

Semenjak itu yang berteman denganku hanyalah beberapa orang saja, mereka menjauhiku karena dianggap aku tidak normal. Di kelas aku di kucilkan, oleh guru-guru aku dianggap biang keributan masalah yang terjadi seolah-seolah semuanya sebabku. Aku mulai merasa ini tak adil, apa aku harus merasa senang atau aku harus menyesal karena dianugerahi hal yang tak mungkin semua orang dapat. Ya, orangtuaku selalu menenangkan bahwa itu bukan musibah itu anugerah buatku karena yang lain ingin mendapatkan hal yang kupunya harus ada tahap-tahapnya, tapi aku dititipkan oleh Allah SWT kemampuan yang orang lain tak bisa. “INDIGO” ya aku punya kemampuan melihat makhluk astral, di dunia ini Allah SWT menciptakan banyak makhluk ada yang nyata dan tidak nyata. Percaya atau tidak makhluk tidak nyata itu memang ada, mereka mempunyai kehidupan seperti kita, mereka juga banyak seperti kita, berbagai macam bentuk mereka. Namun, mereka tak seseram apa yang digambarkan di televisi , mereka sebenarnya baik tergantung apa yang kita pikirkan, jika kita pikir mereka jahat maka mereka akan usil kepada kita. Mereka diciptakan tak sesempurna manusia, yang mempunyai akal, yang mempunyai raga sempurna. Jujur saja awalnya aku benci kenapa harus aku yang punya kemampuan itu, semua teman-temanku bahkan keluargaku anggap bahwa itu imajinasi. Bahkan ada teman orangtuaku yang menyarankan aku dibawa ke psikiater untuk di periksa siapa tahu jiwaku terganggu. Mendengar itu hatiku hancur, aku menangis dan bilang kepada orangtuaku “AKU NORMAL”. Sungguh itu hal tersakit, andai saja semua orang bisa merasakan apa yang kurasa. Andai bisa memilih aku juga tak ingin aku seperti ini.

Kehidupanku terus berjalan, hingga sekarang aku melanjutkan pendidikan ke universitas yang ku pilih. Sekarang aku sudah terbiasa dengan kemampuan yang ku punya, aku sudah bisa mengontrol diri. Memang benar kata Bapaku jika melihat makhluk-makhluk tersebut jangan ceritakan pada orang banyak. Agar tak dinilai bahwa imajinasi kita tinggi, orang lain ada yang bisa percaya ada juga yang bilang bahwa itu khayalan. Aku ingin buktikan kepada orang-orang yang anggap aku “GILA” bahwa “ORANG GILA” juga bisa sukses bisa melanjutkan kuliah. Biarlah bagi mereka yang menilaiku seperti itu pasti mereka juga berpikir mana ada “ORANG GILA” bisa sukses. Wajar juga jika ada yang tidak percaya karena mereka tak merasakan apa yang kurasakan. Sekarang aku tak ambil pusing dengan obrolan miring tentangku. Biarlah ini “DUNIAKU”, aku sendiri yang merasakan. Memang makhluk astral itu memang ada, buktinya Allah SWT menuangkan semuanya dalam Al-Qur’an. Seperti dalam surat AN-NAAS, Allas SWT menciptakan jin dan manusia. JIN diciptakan untuk menggoda Umat-Nya yang taat. Buktinya kita pasti sering merasa malas beribadah, sering melakukan maksiat, dosa, dan itulah cara JIN atau Makhluk Astral itu menggoda kita. Bagi yang tidak percaya jangan menganggap orang INDIGO itu GILA ya. Kalau gak percaya ya sudah, INDIGO itu normal kok. Buktinya kita bisa sukses, mana ada sih orang gila yang berpikiran ingin sukses. So, DUNIA KITA berbeda guyss 🙂

 

“Untukmu yang Akan Menjadi Pendamping Hidupku”

Untukmu yang akan menjadi pendamping hidupku…..
Aku tahu bahwa dalam setiap hubungan harus ada saling percaya, saling mengerti. Namun, untuk menjadi pendamping hidupku rasanya kamu harus bersabar dalam menghadapi ego-ku karena aku mencari pendamping yang menemaniku kapan pun, bagaimana pun kondisiku. Siapapun kamu, bagaimana pun kamu, seperti apa kamu yang akan menjadi pendamping hidupku aku mohon bersabarlah dalam membimbingku.
1. Terima Aku Apa Adanya
Untuk jadi pendampingku tidaklah sulit, cukup terima kekuranganku. Aku yang tidak sempurna bahkan jauh dari kata perempuan idaman. Ego ku yang cukup tinggi kadang membuat lelaki enggan untuk menjadi pendampingku. Kepada kamu, aku mohon terimalah semua kekuranganku.
2. Jangan Pernah Bosan Menghadapiku
Saat kamu masuk dalam kehidupanku, ku mohon jangan pernah bosan apalagi lelah menghadapi sifat kanak-kanakku. Yang selalu ingin dapat perhatian, yang selalu ingin dimanjakan, dan mengekang kamu untuk tak dekat dengan teman perempuanmu. Aku pernah terluka karena terlalu membebaskan dan aku tak ingin kamu melakukan kesalahan yang sama seperti yang sebelumnya.
3. Tak Selalu Menuntutku Untuk Sempurna
Mungkin kamu pun punya kriteria perempuan idaman sama sepertiku yang mempunyai kriteria pria idaman. Mungkin nanti kamu pun hanya masuk sebagian dari kriteria yang aku tentukan sebelumnya. Tak apa karena aku hanya menilai ketulusanmu saja dan seberapa kuat kamu mempertahankan hubungan kita. Aku takkan menuntutmu untuk menjadi yang aku inginkan, maka dari itu tolonglah jangan pernah menuntutku untuk menjadi yang kau mau. Aku nyaman menjadi diriku sendiri, janganlah khawatir dengan sifatku ini. Aku yang tau diriku sendiri, aku yang akan mengontrol diriku sendiri. Tugasmu hanya ingatkan aku atau perlu bentak aku saat tingkahku melampaui batas bukan untuk merubahku. Aku ingin diiring sayang, bukannya digiring.
4. Setia,Sabar,Sholeh
Dari dulu aku selalu bermimpi jika kelak nanti aku mempunyai pendamping harus 3S(Setia,Sabar,dan Sholeh). Aku tak pernah memandang rupa,harta, yang aku lihat dari lelaki adalah kesetiaannya,kesabarannya,dan kesholehannya. Aku membutuhkan lelaki seperti itu untuk membimbingku menggantikan posisi Ayahku nanti.

Sederhana saja untuk mulai
masuk dalam hidupku. Terimakasih untuk
kamu yang kelak nanti akan menjadi
pendampingku,terimakasih untuk
pengertian dan pengorbanmu 